Ibu kita kartini
Putri sejati
putri indonesia
Harumnamanya.
Wanita
harus pandai, berpendidikan dan berfikiran maju, tetapi harus tahu
kepandaiannya itu untuk apa, bukan untuk bersaing dengan kaum pria tetapi
justru bersinergi dengan suaminya dalam mendidik dan membesarkan anak-anak mereka.
Guna melahirkan generasi Islam dan generasi muda penerus bangsa yang tangguh,
cerdas serta tak terkalahkan oleh bangsa lain. Sehingga bangsa Indonesia
menjadi bangsa yang maju, kuat dan makmur. Itulah inti ajaran dan pemikiran
Kartini yang terkenal dengan emansipasi wanita
Pastinya semua
perempuan Indonesia merasa berhutang budi pada beliau, jika tidak ada ibu RA
Kartini mungkin semua perempuan Indonesia sampai saat ini masih sangat
terbelakang. Kegiatannya hanya meliputi 3R saja yaitu dapur, sumur, kasur.
Karena RA
Kartini-lah perempuan Indonesia bisa bersekolah sampai setinggi-tingginya.
Karena beliau derajat perempuan Indonesia bisa sama dengan laki-laki.
Dahulu, khususnya
masyarakat jawa menganggap perempuan hanya sebagai pendamping hidup kaum adam.
Tidak boleh belajar baca tulis, tidak boleh memegang peran di masyarakat.
Intinya mereka hanya mengurus suami, anak dan rumah. Walau begitu mereka semua
menerima saja ‘nriman’. Tak terpikir pada mereka jika hal itu dibiarkan terus
maka akan menjadi kebodohan bagi diri mereka sendiri yang pada akhirnya juga
menjadi kebodohan bagi bangsa ini karena wanita adalah tiang negara. Jika
cerdas wanita maka cerdas pula negara, tetapi jika bodoh wanita maka bodoh
negara. Mengapa bisa begitu? Apa kaitannya. Tentu saja sangat erat, bukankah
wanita-lah yang melahirkan dan mendidik generasi penerus bangsa.
Orang tua RA
Kartini-pun menganut budaya kolot seperti itu. RA Kartini dilahirkan pada
tanggal 21 April 1879 di Jepara Jawa Tengah. RA Kartini adalah anak dari
bangsawan Jawa yang bernama Raden
Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara Jawa
Tengah yang masih ada keturunan dengan Sri Sultan Hamengkubuwana VI. Sedangkan
ibunya bernama M.A.Ngasirah, anak dari pasangan Nyai Hajah Siti Aminah dan Kyai
Haji Madirono yang berprofesi sebagai guru agama di Telukawur, Jepara. Berarti
Raden Ajeng Kartini adalah keturunan seorang priyayi.
Karena anak dari
bangsawan Jawa, RA Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere
School) tetapi hanya sampai usia 12 tahun. Akan tetapi ini tidak berlaku bagi
perempuan rakyat biasa. Beruntunglah Kartii bisa berbahasa Belanda, membaca dan
menulis.
Saat usia 12 tahun
Kartini tidak diperbolehkan lagi bersekolah. Ia harus tinggal dirumah karena
harus di pingit. Tetapi Kartini tidak putus asa. Walau di rumah, beliau
tetaplah belajar membaca dan menulis. RA Kartini memiliki banyak teman wanita
yang berkebangsaan Belanda, salah satunya adalah Rosa Abendanon. Kartini sering
berkirim surat dengannya. Dari nyalah Kartini mengerti pola berfikir wanita
Belanda yang jauh lebih maju. Kartini juga sering membaca koran, buku dan majalah
yang menulis tentang kemajuan berfikir masyarakat Eropa, khususnya perempuan.
Dari situlah Kartini mulai berfikir untuk mengangkat derajat kaumnya yaitu
perempuan Indonesia, tidak peduli rakyat biasa atau bangsawan. Semua perempuan
Indonesia harus sekolah, harus bisa membaca dan menulis sama seperti kaum
lelaki.
Selain membaca
koran dan majalah, RA Kartini juga sering mengirim tulisannya serta hasil
pemikirannya ke majalah tersebut. Banyak tulisan Kartini yang dimuat di surat
kabar itu. Kartini juga sering bertukar pikiran dengan teman-teman perempuannya
melalui surat. Dan semua temannya mendukung pemikirannya.
Sekolah
Kartini
Pada tanggal 12
November 1903 Kartini dinikahkan oleh orangtuanya dengan seorang bupati Rembang
yang bernama K.R.M. Adipati Aro Singgih Jojo Adhiningrat. Kartini adalah
perempuan yang cerdas. Ia lalu mengutarakan pemikirannya itu ke suaminya untuk
mengangkat derajat kaumnya dengan mendirikan sekolah perempuan. Suaminya adalah
orang yang bijak. Ia merestui dan mendukung keinginan istrinya.
Sekolah Kartini
ini menempati bangunan yang ada di timur pintu gerbang kompleks kantor bupati
Rembang, saat ini berfungsi sebagai gedung pramuka. Disanalah Kartini
mengumpulkan para wanita sekitar tak terkecuali dari kalangan rakyat biasa. I
asendiri yang mengajari mereka membaca dan menulis. Mulai dari mengeja hhuruf,
angka sampai bahasa Belanda.
Bagi Kartini
mendapatkan pendidikan adalah hak setiap orang, tak peduli pria atau wanita.
Tak peduli bangsawan atau rakyat biasa. Khususnya untuk wanita, perempuan
adalah calon ibu. Ia nantinya yang akan mendidik anak-anaknya. Jika ibunya
bodoh mana mungkin bisa menghasilkan keturunan yang pandai.
Sebenarnya sebelum
menikah, Kartini sempat mendapat beasiswa untuk bersekolah ke Belanda. Namun
setelah dinasehati oleh Nyonya Abendanon yang merupakan sahabat pena Kartini,
akhirnya Kartini memutuskan untuk sekolah di Betawi saja.
Tetapi niat untuk
bersekolah di Betawi pun pupus karena ia hendak dinikahkan. Banyak sahabat pena
Kartini yang menyesal akan hal itu. Bahkan Kartini pun menuangkan penyesalannya
lewat suratnya yang berbunyi "...Singkat
dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi,
karena saya sudah akan kawin..."
Begitulah Kartini,
ia memilih mematuhi orang tuanya untuk dinikahkan. Namun saat setelah menikah
dan suaminya mendukung pemikirannya. Kartini menjadi sangat bersyukur. Betul,
inilah yang terbaik. Ia bisa terus menyatakan buah pikirannya dengan mendirikan
sekolah untuk wanita.
Sayangnya umur RA
Kartini tidaklah sepanjang pemikirannya. Pada usia 25 tahun tepatnya pada
tanggal 13 September 1904 Kartini meninggal dunia saat melahirkan anak pertama
dan terakhirnya yaitu Soesalit Djojoadhiningrat. Jasad Kartini dimakamkan di
desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang Jawa Tengah.
Saat ini Sekolah
Kartini tidak hanya di Jawa Tengah saja, melainkan juga di Surabaya,
Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah-daerah lain di Indonesia.
Setelah RA Kartini
meninggal dunia, surat-surat Kartini dikumpulkan dan dibukukan oleh Nyonya Abendanon
yang merupakan sahabat pena Kartini. Surat-surat tersebut diberi judul “Door Duisternis tot Licht” yang memiliki makna “Dari Kegelapan Menuju Cahaya” atau habis gelap
terbitlah terang.
Karena
pemikirannya dan tindakan konkretnya walau belum tuntas itu Kartini diangkat
menjadi Pahlawan Nasional dan hari lahirnya yaitu 21 April dijadikan sebagai
hari Kartini yang merupakan hari libur nasional. Banyak dari kita
memperingatinya dengan memakai baju daerah ke sekolah. Y a.. bolehlah itu. Asal
jangan menghilangkan semangat RA Kartini dalam memperjuangkan hak-hak kaum
wanita untuk memperoleh pendidikan yang sama dengan kaum pria, demi tercapainya
bangsa yang cerdas.
Sebenarnya
selain RA Kartini ada banyak lagi Pahlawan Nasional perempuan Indonesia seperti
Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Christina Marthatiahahu dan banyak
lagi. Ada yang berjuang dengan senjata ada pula melalui pendidikan dan
organisasi. Mereka semua memperjuangkan nasib Indonesia agar menjadi negara
yang cerdas, merdeka, makmur dan maju.
Kita
semua patut berterima kasih pada mereka. Karena merekalah yang telah
memperjuangkan Indonesia, juga termasuk memperjuangkan diri kita saat ini.
Bayangkan aja jika tidak ada mereka, mungkin saat ini kita masih dijajah, kita
masih terbelakang, kaum wanitanya bodoh-bodoh dan tentu saja generasi
penerusnya juga bodoh-bodoh. Yang berarti bangsa ini juga masih terjajah,
terbelakang dan bodoh.
“Bangsa Yang Besar adalah Bangsa Yang Menghargai
Jasa Para Pahlawannya”. Ayo kita semua bangsa
Indonesia harus tahu diri dan tahu berterima kasih kepada para pahlawan kita
dengan meneruskan perjuangan mereka memajukan Indonesia.
Kartini dan Islam
Kartini
adalah anak keturunan bangsawan Jawa dari ayahnya dan anak keturunan Kyai dan
Nyai (sebutan orang jawa untuk orang yang mengerti Islam). Tentu saja kehidupan
Kartini sangat kental dengan Islam dan Jawa. Namun interaksi Kartini dengan
Islam malah membuatnya hampir membenci Islam itu sendiri, karena dia mengenal
Islam sebagai perpaduan dengan budaya Jawa yang dianggap sebagai Islam, bukan
Islam yang murni dan benar.
Pernah
suatu ketika Kartini diwajibkan untuk menghafal Al Qur’an namun Kartini
menyakan apa makna dari hapalan yang ia lakukan barusan. Guru mengajinya
menjawab dengan kalimat “ Al Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan kedalam
bahasa asing”. Tetapi jika ia malas menghapal Al Qur’an, maka ia akan dimarahi.
Dongkollah hati Kartini mendengar jawaban guru ngajinya. Bagaimana mungkin ia
harus menghafal kata demi kata kata dari Al Qur’an tanpa boleh ia tahu
maksudnya. Bagaimana ia bisa memahami Al qur’an? Bagaimana ia bisa memahami
Islam yang sebenarnya?
Kehidupan
RA Kartini dapat di golongkan kedalam tiga fase yaitu saat ia belia dimana ia
semangat sekali menyuarakan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan
terutama dalam mendapat pendidikan yang setara. Fase kedua adalah saat beranjak
dewasa yaitu ketika dia sadar bahwa bangsanya tengah dijajah oleh Belanda.
Disitu baru ia menyadari bahwa teman pena yang selama ini ia percaya seperti Ny
Abendanon dan lainnya tidaklah boleh sepenuhnya dianggap teman karena mereka
berasal dari kaum penjajah. Dan fase ketiga adalah setelah pernikahannya sampai
menjelang ajalnya, saat ia diberi hadiah Al Qur’an terjemahan bahasa Jawa oleh
seorang Kyai, ia jadi sadar akan keindahan Al Qur’an dan ajaran Islam serta ia
jadi sadar bahwa kemajuan masyarakat barat yang selama ini ia kagumi dan ia
jadikan kiblat ternyata hanyalah omong kosong.
Hal
ini termaktub dalam surat-surat RA Kartini kepada teman-teman Belandanya
seperti Ny Abendanon dan teman-teman penanya yang lain sebagai berikut.
“Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus
menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat
agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana
aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya?
Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di
sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca
Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang
gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama
saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal
kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa
artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang
baik hati, bukankah begitu Stella?â€Â
[Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899]
“Dan
waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan
apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal
perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya,
dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku
apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia
itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya. [Surat Kartini
kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902]
Suatu keberanian dan kekritisan yang luar biasa untuk ukuran zaman dahulu mempertanyakan
tentang hal sedalam itu apalagi tentang Keyakinannya. Hal itu menunjukkan bahwa
RA Kartini adalah wanita yang sangat cerdas dan berani.
Suatu ketika Kartini mengikuti pengajian dirumah pamannya. Pengajian itu
dibawakan oleh Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar (Kyai Sholeh Drajat).
Pengajian itu membahas tentang terjemahan surat Al-Fatihah. Kartini sangat
takjub dengan kandungan surat Al Fatihah yang begitu indah. Inilah yang dicari
Kartini selama ini.
Setelah pengajian berakhir, Kartini memberanikan diri untuk menemui Kyai
Sholeh Drajat dengan ditemani pamannya yang tak lain adalah bupati Demak yaitu
Pangeran Ario Hadiningrat. Pada Kyai Sholeh Drajat Kartini bertanya suatu hal.
“Kyai,
perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang
berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?”
Terheran Kyai Sholeh mendengar pertanyaan Kartini.
“Mengapa
Raden Ajeng bertanya demikian?” Ganti Kyai
Sholeh bertanya.
“Kyai,
selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat
pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku.
Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak
habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan
dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab
pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
Mendengar jawaban Kartini tergugahlah hati Kyai Sholeh Drajat untuk
menerjemahkan Al Qur’an dalam bahasa Jawa (Saat itu Bahasa Indonesia belum
menjadi Bahasa persatuan sehingga tiap daerah lebih memahami jika menggunakan
bahasa daerah masing-masing). Dan pada saat Kartini menikah, Kyai Sholeh Drajat
menghadiahinya terjemahan Al Qur’an jilid 1 yaitu berisi 13 juz mulai dari
surat Al Fatihah sampai surat Ibrahim.
Sangat disayangkan sekali sebelum Kyai Sholeh menyelesaikan terjemahan Al
Qur’annya, beliau keburu wafat.
Dari terjemahan itulah Kartini mulai memperdalam Islam. Kartini semakin
takjub akan kebenaran Islam. Dari orang yang meragukan kebenaran Islam dan
lebih mengagung-agungkan peradaban barat, kini ia menjadi orang yang sangat
mengagumi Islam dan mulai sadar bahwa barat adalah bukan suatu peradaban.
Banyak kepincangan-kepincangan yang tersembunyi di situ.
Hal ini
tercermin dari surat-suratnya kemudian.
“Sudah lewat masanya, tadinya kami
mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik,
tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat
Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam
masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut
sebagai peradaban?
[Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902]
“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan
murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang-orang Jawa
Kebarat-baratan. (surat
Kartini kepada Ny. Abandanon, 10 Juni 1902)
Kartini juga
sangat tidak menyukai praktek Kristenisasi yang waktu itu digalakkan hal ini
tercermin dari surat kartini pada EE Abendanon tanggal 31 Januari 1903. Bahkan
Kartini bertekad untuk memperbaiki citra Islam yang selama ini dijadikan
sasaran fitnah bagi orang-orang barat.
“Bagaimana pendapatmu tentang
Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar
cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi? Bagi orang Islam, melepaskan
keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang
sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan
mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?”
“Moga-moga kami mendapat rahmat,
dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.”
[Surat
Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902].
Kartini juga
menyampaikan penyesalannya selama ini salah menilai Islam. Hal ini terungkap
dari surat-suratnya sebagai berikut.
“Astaghfirullah, alangkah jauhnya
saya menyimpang.” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon,
5 Maret 1902)
“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: Hamba Allah (Abdulloh).” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 1 Agustus 1903)
“Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Alloh, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dia-lah yang dapat menyembuhkan.” (surat Kartini kepada Nyonya Abandanon, 1 Agustus 1903)
“Menyandarkan diri kepada manusia, samalah halnya dengan mengikatkan diri kepada manusia. Jalan kepada Allah hanyalah satu. Siapa sesungguhnya yang mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia pun ia sebenar-benarnya bebas.” (Surat kepada Ny. Ovink, Oktober 1900)
Diantara
ayat-ayat AlQur’an yang di pelajarinya, Kartini paling suka Surat Al Baqarah
ayat 257 yang berarti ALLOH-lah yang membimbing jalan manusia dari kegelapan
menuju cahaya. Kartini sering sekali mengulang kalimat Minazh-Zhulumaati
ilan Nuur yang berarti
dari kegelapan menuju cahaya, karena kalimat itu mewakili akan perjuangan
dirinya selama ini.
Dalam
surat-suratnya Kartini sering mengulangi kata itu. Surat Kartini kebanyakan
menggunakan bahasa Belanda. Kalimat Minazh-Zhulumaati ilan Nuur beliau tulis dengan bahasa Belanda pula yaitu Door
Duisternis Tot Lich . Sayang sekali saat suratnya diterjemahkan ke dalam
bahasa Melayu oleh Armijn Pane kalimat Minazh-Zhulumaati ilan Nuur ditulis dengan
“Habis Gelap Terbitlah Terang” sehingga kehilangan makna yang sesungguhnya. Sehingga saat surat-suratnya dibukukan,
surat Kartini dinamakan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Sampai saat ini
banyak orang Indonesia yang tidak tahu khususnya umat Muslim bahwa kata “Habis
Gelap Terbitlah Terang” itu asalnya dari kekaguman Kartini akan salah satu ayat
Al Qur’an di surat Al Baqarah 257 yaitu kalimat Minazh-Zhulumaati ilan Nuur karena memang
tidak pernah dibahas di pelajaran sekolah dan buku-buku sejarah. Mungkin takut
membangkitkan kekaguman dan kebanggaan umat Islam terhadap agamanya, bisa jadi
sejarah yang lain juga sengaja dikaburkan dan dipisahkan dari Islam, padahal
kita semua tahu bahwa mayoritas warga negara Indonesia adalah orang Islam dan
sejak dahulu perang melawan penjajah selalu dimotori oleh ulama-ulama dan para
santrinya. Kebanyakan Pahlawan Nasional adalah ulama Islam seperti Cut Nyak
Dien, Cut Meutia, Pangeran Diponegoro, Sultan Agung, Pangeran Antasari dan
banyak lagi. (Wallohualam bis showab).
Berkaitan dengan
perjuangan Kartini, Kartini adalah Pahlawan Wanita Indonesia sekaligus Pahlawan
Nasional. Perjuangannya belumlah selesai. Kartini sudah berusaha keras keluar
dari kungkungan adatnya. Ingat yang menjadikan kaum wanita sebelum Kartini
terbelenggu adalah kungkungan adat yang begitu kental. Bukan karena ajaran
Islam. Walaupun sebagian besar dari mereka menganut Islam namun mereka banyak
yang belum faham arti dan makna kandungan Al Quran. Terbukti pada diri Kartini
saat ia tahu makna AlQuran, Ia jadi sadar bagaimana seharusnya wanita berperan
dalam kehidupan. Wanita harus pandai, berpendidikan dan berfikiran maju, tetapi harus
tahu kepandaiannya itu untuk apa, bukan untuk bersaing dengan kaum pria tetapi
justru bersinergi dengan suaminya dalam mendidik dan membesarkan anak-anak
mereka. Guna melahirkan generasi Islam dan generasi muda penerus bangsa yang
tangguh, cerdas serta tak terkalahkan oleh bangsa lain. Sehingga bangsa
Indonesia menjadi bangsa yang maju, kuatdan makmur. Itulah inti ajaran dan
pemikiran Kartini yang terkenal dengan emansipasi wanita.
Bukan seperti
masyarakat barat yang memandang emansipasi wanita dengan menjadi saingan pria
atau suami sehingga para wanita berlomba untuk bekerja di luar rumah. Berusaha
menunjukkan bahwa dirinya kuat dan bisa mengalahkan pria bukanlah emansipasi
wanita, tetapi malah menjerumuskan wanita itu sendiri.
Wanita jadi kehilangan fitrahnya sebagai wanita, kehilangan sifat keibuannya, kehilangan sifat lemah-lembutnya. Dan akhirnya yang terjadi adalah banyak anak terbengkalai, banyak rumah tangga cerai karena salah tafsir akan arti emansipasi. Dan jika di runut maka yang akan terjadi adalah rusaknya masyarakat dan tentunya rusaknya bangsa. Naudzubillah.
Biodata RA Kartini
Wanita jadi kehilangan fitrahnya sebagai wanita, kehilangan sifat keibuannya, kehilangan sifat lemah-lembutnya. Dan akhirnya yang terjadi adalah banyak anak terbengkalai, banyak rumah tangga cerai karena salah tafsir akan arti emansipasi. Dan jika di runut maka yang akan terjadi adalah rusaknya masyarakat dan tentunya rusaknya bangsa. Naudzubillah.
Biodata RA Kartini
Nama :
Raden Ajeng Kartini
Raden Ayu Kartini
RA Kartini
Nama : Raden
Ajeng Kartini
Lahir : Jepara,
21 April 1879
Jawa Tengah
Meninggal :
Rembang, 17 September 1904
Jawa Tengah
Dikenang Karena
: Pemikirannya Untuk Memajukan Kaum Wanita
Agama : Islam
Suami : R.M.A.A Singgih
Djojo A


0 komentar:
Posting Komentar